ASSALAMMUALAIKUM

Selasa, 22 Januari 2013

Tentang Pensil

Pensil

Kayu kecil panjang dan punya sesuatu yang hitam di dalamnya. Pensil. Dari satu benda mungil bisa tercipta ribuan karya. Kata, gambar, cinta. Pensil. Terkadang, kita memerlukan lebih dari satu pensil untuk mengisi halaman-halaman kosong buku harian. Tapi ada kalanya kita hanya perlu satu pensil saja untuk memenuhi seuruh halaman kosong buku itu. Seperti aku. Aku punya sebuah buku yang setiap hari harus kuisi dengan warna-warni cerita hidupku. Untuk mengisi halaman kosong bukuku itu, aku perlu pensil. 

Pensilku, sudah berganti beberapa kali. Tak banyak pensil bagus yang sesuai dengan bukuku, hatiku. Beberapa dari mantan pensilku berakhir rusak, patah, hilang, atau diambil orang. Pensil-pensilku terdahulu telah mengisi beratus halaman bukuku yang lalu. Satu per satu pensilku dulu telah menorehkan banyak kata indah, ungkapan marah, kiasan rindu, keluhan pilu. Setiap pensil baru yang kumiliki selalu menjadi pensil terbaik di dunia. Mereka begitu lincah menari di atas halaman bukuku, mengisinya dengan kata, memori yang begitu indah. Hingga mereka lelah. Berhenti menari. Dan pergi. Ketika pensilku lelah, enyah, aku lemah. Halaman buku harianku harus tetap terisi ntah dengan apa. Karena itulah, aku butuh pensil. Pensil. 

Pensilku sekarang adalah pensil terbaik yang pernah aku miliki. Mungkin. Sekarang. Rasanya seperti itu. Banyak sekali pensil-pensil lain yang terlihat menawan. Tapi tidak ada yang terasa nyaman. Tidak ada, kecuali pensilku. Pensilku. Pensilku sekarang adalah pensil yang paling berbeda. Pensilku. Dia jauh. Pensilku. Terkadang ketika kubutuhkan, dia tak ada. Pensilku. Dia tak ada, tapi terasa nyata. Sangat nyata. Pensilku. Hampir 30 halaman bukuku telah terisi olehnya. Pensilku. Mengisi bukuku dengan ratusan cerita, ribuan bahagia, jutaan cinta. Meski terkadang juga tercipta beberapa pilu, sedikit cemburu, dan gunungan rindu. Pensilku. Aku pun tak tahu sampai kapan pensilku  yang sekarang akan bertahan. Kapan pensilku ini akan mulai lelah, kalah, dan enyah. Sebelum saat itu tiba, aku akan selalu berusaha menjaganya. Pensilku. Karena pensilku yang sekarang, mungkin akan terus mengisi halaman buku harianku hingga tak tersisa. Dengan bahagia, dengan cinta.

Pensilku. Kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar